Sedekah Melancarkan Rezeki

rezeki“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi.” QS Fathir {35} : 29

 Sebagai konsekuensi hidup, manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun adakalanya bahkan sering ikhtiar atau kerja kita belum mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apalagi jika dihadapkan pada kebutuhan hidup tiap tahun yang terus meningkat, maka selain bersabar dan tidak putus asa diperlukan “kiat-kiat” menambah dan melapangkan jalan rezeki untuk kita. Tentu rezeki yang di maksud adalah rezeki yang halal dan baik yang didapat bukan dari mendzolimi / menipu orang lain.
5 hal yang menurut tuntunan agama dapat melapangkan rezeki seseorang di antaranya :
1.       perbuatan baik,
2.       sedekah / Infaq  
3.       silaturahmi,
4.       taubat / istighfar
5.       syukur.
Substansi / inti yang ingin diraih dari 5 amalan di atas adalah keridloan Allah SWT, sehingga dengan ke-Maha Pemurahan-Nya kemudian Allah menambahkan dan melapangkan jalan rezeki kita atau bahkan kemudian kemudahan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Yang sangat diharapkan adalah balasan kebaikan amal di akherat kelak, dan itu mudah bagi Allah SWT.
 
Sedekah/ Infaq , salah satu jalan meraih Ridlo Allah SWT, merupakan tindakan mengeluarkan apa yang kita miliki (bisa berupa harta, uang, tenaga, pikiran bahkan senyuman ) yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas akan bermanfaat membantu bagi sesama, insya-Allah akan dilipat gandakan balasannya baik di dunia maupun di akherat.
Perniagaan yang tiada merugi… itulah salah satu jaminan bagi orang yang suka berinfak.

Cobalah simak hadits 567 bab 60 dalam kitab Riyadhus ShalihinI! Di sana Nabi Saw berkisah, ada seorang petani di Madinah… ia berdiri di antara kebun kurmanya yang kering kekurangan air. Pohon tidaklah subur, sementara buah-buahan tidak muncul dengan baik. Ia khawatir, bila kekurangan air maka kebun tidak akan memberi hasil maksimal untuk kebutuhan hidup ia dan keluarga. Ia menengadah ke arah langit. Kedua tangannya, ia angkat setinggi mungkin seraya merapal lafal-lafal doa kepada Allah agar kebunnya diberi air hujan.
Tak lama sejak itu, Allah mengirimkan awan untuk berkumpul. Beriringan sedikit demi sedikit, awan berkumpul dengan cukup lebat di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan. Dalam hatinya, ia berucap… “Allah mengabulkan doa & permintaanku tadi!” Namun sebaliknya yang terjadi. Terdengar olehnya sebuah suara yang berasal dari langit dan berbunyi, “Wahai awan, pergilah ke tanah si Fulan…!”
Maka berjalanlah awan ke arah lain, ke tempat yang tidak diketahui oleh si petani yang baru saja berdoa. Kekesalan membuncah dalam batin sang petani. “Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku?” gumamnya. Ia pun penasaran. Ia berlari dan terus berlari. Mengikuti kemana awan akan berhenti dan menurunkan air yang dikandungnya.
kebun-kurma
Sampai di suatu tempat yang subur… daunnya rimbun… dan memiliki air yang banyak. Awan pun berhenti dan mencurahkan segala air yang berada di dalam perutnya. Si petani menatap keheranan…, tatkala dilihatnya ada seorang pria bersahaja yang sedang berdoa syukur kepada Tuhan karena telah memberi rahmat pada tanahnya.

Saat itu, si petani memanggil nama si pemilik tanah. Sang pemilik tanah merasa heran lalu bertanya, “Saudara, dari mana Anda tahu namaku?” “Itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya, amalan apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari suara langit yang memerintahkan awan untuk menurunkan hujan di sini…, di tanahmu!” Subhanallah! Bukankah ini sebuah prestasi hebat, hingga membuat nama seseorang disebut di langit? Si pemilik tanah mencoba menjawab pertanyaan petani,“Saudara, belum ada orang yang aku beritahukan tentang amalan yang aku kerjakan sehingga membuahkan hasil sedemikian. Namun karena engkau telah tahu sebagian rahasia ini… dan juga karena engkau telah menanyakannya, maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi.” “Ceritakanlah padaku, wahai Saudara!” gegas si Petani sebab penasaran.
“Rahasianya mungkin adalah…. Setiap kali kebun dan tanah ini memberi hasil, hanya sepertiga darinya yang aku makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan kepada tanah ini sebagai tambahan modal. Lalu sepertiganya lagi, aku berikan kepada Allah Swt sebagai infakku di jalannya. Itulah amalan rutin yang aku kerjakan sehingga membawaku pada hasil yang sedemikian.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s